September 19, 2015

Hari Ke Tiga — Dua Pasang Mata

Aku sengaja datang lebih awal karena ingin menunggunya. Ingin menilai penampilannya, ingin memperhatikan tiap detail dari kepala hingga ujung kakinya.

Aku mengambil kursi di sudut, membelakangi pintu masuk. Rasanya enggan bertemu mata ketika ia tiba.

Oh baiklah. Sebenarnya aku gugup.


Tak lama setelah aku meneguk ocha dingin yang baru ku pesan. Ia datang, dengan kemeja kotak kotak dan jam tangan besar dengan pandangan meyakinkan apa benar aku adalah orang yang ingin ia temui.
“Hai!” ujarku

Ia memberi tangan untuk dijabat. Aku menyambutnya.
"Udah lama?" tanyanya
"Baru lima menit"
"Kok belum pesen?" ia melihat meja di depanku masih kosong
"Nunggu kamu biar makan bareng"

Ia duduk di kursi seberang. Suasana tiba tiba hening. Dua gadis di meja sebelah ternyata sudah meninggalkan kedai sushi diam diam.

"Kamu pesen aja dulu" katanya menyodorkan menu
"Aku bingung. Kamu udah makan?"
"Belum. Pertanyaan standar ya? Hahaha"
Aku ikut tertawa, canggung.

Susana kedai sushi sore itu sangat sepi. Bahkan hanya ada kami. Benar benar hanya kami.

Aku tak bisa fokus memilih sushi mana yang ingin ku makan "Aku pesen ini aja deh" kataku asal. Ia membaca deskripsi sushi yang ku pesan "Mmh boleh juga, pesen aja"

"Terus kamu mau apa?" tanyaku kemudian. Apa ia mendengar suaraku bergetar? Ah semoga tidak.
"Ramen di sini enak gak? Aku lagi pengen yang spicy"
"Wah aku gak pernah coba, paling ya gitu"
"Gitu apa nih, gitu positif atau negatif?"
"Hahaha gitu negatif kayaknya"

Aku yakin bicara kami barusan terdengar hingga gerobak sushi di belakang dimana si pembuat sushi sedang istirahat. Maaf atas kelancangan bicaraku ya mas.

"Ya udah aku pesen ini sama ini" katanya menunjuk dua menu bergantian
"Dua? Kamu abis?"
"Haha jangan ditanya udah taro aja nanti juga ilang"
"Haha terus minumnya?"
"Ini aja deh"

Aku selesai menulis semua pesanan, memanggil si pramusaji dan menyerahkan lembar kertasnya.

"Jadi gimana?" kataku
"Gimana apanya?" ia bingung
"Aku jauh jauh ke sini buat nagih cerita tau"
"Oh hahaha nanti deh abis makan"
"Abis makan kenyang terus pulang" kataku
"Abis makan kenyang terus tidur" katanya menyandarkan diri di sofa. Aku sempat menawarkan apa ingin pindah meja karena tempat yang kami duduki kurang nyaman untuk makan sushi.

"Udah gak apa di sini aja. Adem kok" begitu jawabnya.

"Kamu kerja dimana sih? Kok aku masih gak mudeng?" tanyaku
Ia mulai menceritakan tempat ia bekerja dengan beberapa istilah yang baru aku dengar.


Sepanjang ia bicara aku menatap matanya lekat lekat, tak tahu lagi harus memandang ke arah mana. Tak sempat ku perhatikan celana warna apa yang ia pakai, atau alas kaki apa. Aku tak melepas pandanganku dari sana, dari matanya.

Setelah penjelasan yang kebanyakan aku tak mengerti, sushi pesanan kami datang. Kami mulai makan dengan susah payah karena ia ku paksa sambil bicara.

Aku mendengar ceritanya, setiap cerita yang ia bilang membosankan. Sesekali aku merengut, tersenyum dan tertawa terbahak atau mendelik licik seperti 'bukan itu maksudku'

Ia tertawa, lagi dan lagi. Sudah tiga piring sushi dan empat gelas minuman yang kami telan ketika ia bertanya "Kamu masih laper gak?"

"Masih, pesen lagi gih"
Ia bangkit melihat menu takoyaki.
"Kamu mau yang mana?"
"Aku mau yang ada takonya"
Dia tertawa "Semua ada takonya"
Ah aku yakin maksudku gurita, tapi aku menyebutnya dalam bahasa jepang
"Octopus octopus, aku mau yang ada guritanya"
"Mau pedes gak?"
Aku yang sedang susah payah mengunyah sushi terakhir hanya mengangguk menggumam "Iya"

Ia kembali duduk, membagi sesal kenapa ia tak berjuang untuk seseorang, kenapa ia begitu terlambat menyadari jika gadis itu gadis yang baik.

"Do I have any chance?"
"Kayaknya udah gak bisa deh"

Ia terbahak. Merutuki dirinya.
"Masih banyak ikan di laut" aku bilang
"Masih banyak ikan di laut tapi yang mancing juga banyak"
Aku masih diam sebelum akhirnya tertawa sekencang kencangnya
"Aku gak pernah kepikiran bagian itu" kataku

Tapi ia benar.

Setelah berjam jam bicara, aku sadar isi gelas keduaku sudah habis juga gelasnya yang dari tadi hanya berisi udara.
"Pesen ini lagi gih nanti berdua aja, sama minta bill" ia menunjuk jar kosong di depannya.

Aku memesan lagi jenis minumannya. Menuang setengah miliknya ke gelasku setelah ia meneguk beberapa kali.

Sudah habis. Tak ada alasan lagi untuk tetep di sini.

Ia berdiri, memasukkan uang dan ponselnya. Ia hendak pulang karena harus pergi ke suatu tempat. Aku tetap duduk dan bersandar pada sofa, ingin sekali aku menarik kemejanya agar kembali duduk dan bicara untuk waktu yang lama. Tapi aku tak bisa.

Karena ia seperti tak enak menyudahi pertemuan ini, aku memberanikan diri untuk bertanya "Udahan nih?"
"Iya udah yuk"
"Kamu duluan aja aku minta jemput dulu"

Ia kembali duduk, "Ya udah sampe kamu di jemput deh"
"Gak apa kamu duluan aja takut ditungguin"
"Udah gak apa"

Tak lama berselang jemputanku datang, aku berdiri diambang pintu, memberi tangan untuk dijabat, mengucapkan terima kasih dan berlari keluar, aku masih sempat melambai kepadanya sebelum pergi. Ia mengangguk melempar senyum, manis sekali.

0 Comment:

Post a Comment