Ini
kisah kami, aku dan mereka.
Lubay,
kami biasa menyebutnya begitu. Entah sejak kapan nama itu melekat, hanya saja
kami suka menyebut diri kami seperti itu.
Nama
itu dipilih karena kami sekelompok anak perempuan yang lebay—berlebihan, karena
akan terlalu mencolok disebut lebay, jadilah nama lubay. Hahaha. Aneh memang,
tapi aku suka, kami suka.
Persahabatan
ini pun entah sejak kapan menjadi erat, seingatku mulai terasa hangat saat kami
ditingkat akhir sekolah menengah. Ya, kami satu kelas, satu baris, satu untuk
enam, enam untuk satu. Banyak cerita yang kami lalui bersama, marah, senang,
sedih, susah kami bersama.